Setelah cukup lama mencari Binter Merzy CDI dengan kondisi normal diatas 70%, akhirnya saya mendapatkan motor yang saya inginkan. Pengamatan sekilas sebelum memutuskan membeli, kondisi tangki motor cukup mulus, bebas las-lasan.
kondisi shock depan sedikit meler, tapi gak gores. Klakson gak nyala, stater elektrik sempat nyala belum sempat dirapiin. Overall kondisi motor yang saya dapatkan ini layak banget dipakai harian. masalahnya cuman satu, pijakan rem-nya terlalu tinggi, sepertinya pernah jatuh dan belum dibenerin oleh pemilik sebelumnya.
Rencana ke depan :
1. Cari shock belakang yang asli
2. Cari knalpot asli
3. Chrome tromol depan dan belakang
4. Benerin rem depan
5. Benerin kelistrikan - ngidupin stater
6. Benerin pijakan rem kaki
7. Ganti oli dan cek kondisi koil dan cdi.
Dah gak sabar pengen segera menungganginya kembali, membelah macetnya kota Jogja.
Setelah kurang lebih 4 bulan mengalami restorasi dan minor repair di sana sini, akhir minggu lalu KZ200 saya pakai ke lereng gunung lawu, tamangmangu.
Sebelum berangkat,bela-belain menyisihkan tabungan untuk membeli dua liter Mesran B40 di SPBU Jln.Magelang.Rp 51.000 melayang.
Sampai di rumah,langsung copot baut pembuangan oli dan membiarkan sisa Mesran Prima XP berceceran di tampungan oli yang saya ambil dari dapur. entah mungkin baskom itu sebetulnya masih dipakai istri, tapi saya comot saja. :-). Saya membiarkan oli keluar dengan sendirinya semaleman.
Esok harinya baru darah segar Mesran B40 masuk ke mesin KZ200. glek..glek..seliter oli masuk dengan cepat. Giliran botol kedua, ada kendala untuk memasukkan terutama karena saya tidak punya alat ukur yang presisi untuk memasukkan sisa 400cc ke dalam mesin. setelah agak berspekulasi akhirkan saya tambahkan saja setengah botol. Patokannya saya lihat di kaca sebelah kanan mesin belum terendam oli semua.
Judgement day di mulai. Minggu 7 Juni 2009, dengan tekad kuat, modal nekat merzy saya arahkan ke timur,berangkat dari Jogja sekitar pukul 08.00. Perjalanan Jogja - klaten lancar, istirahat bentar untuk beli air mineral. Karena turing alone ini sekedar mengetes mesin, sengaja tidak pakai potokan waktu harus sampai lokasi dalam waktu tertentu.
Klaten -Solo lancar, berhenti di Palur untuk isi pertamax Rp.10.000, ngecek kondisi motor, kok tampaknya ada oli yang berceceran sehingga knalpot ternoda. Bodo amat, perjalanan tetap dilanjutkan.
Solo-tawangmangu,ini rute pembuktian sesungguhnya. gas ditarik santai saja, tapi begitu memasuki daerah tanjakkan sekitar 15 km sebelum balekambang tawangmangu, hasrat untuk segera sampai memuncak. Hawa dingin membuat mesin jadi enteng. Tangan gatel untuk ngegas dalam-dalam. alhasil Toyota Fortuner,Land Cruiser dan Minibus lewat semua di belakang.
11.30 Sampai di tawangmangu dengan sukses, setelah ngaso sebentar perjalanan pulang menjadi terasa mudah. Dan inilah kondisi terakhir motor setelah menjalani mini turing jogja-tawangmangu.
Menurut asal katanya restorasi ( yang bukan gerbong makan di kereta) berarti restoration
noun [mass noun]
1the action of returning something to a former owner, place, or condition:
nah untuk kasus binter merzy saya mau cerita sedikit. setelah menimbang lama antara pilihan mengganti motor atau merestorasi mesin plus body. akhirnya pilihan saya adalah restorasi. pilihan itu muncul ketika salah seorang biker kz 200 memberikan pencerahan dan penguatan sehingga saya tetap mantap untuk melanjutkan menggunakan kz 200 dengan segala konsekuensinya.
Akhirnya sore 12 feb 2009 setelah jam 16.00 (maklum buruh) saya bela-belain datang ke bengkel. Niat awal langsung menuju bengkel janti, tapi kok rasanya kurang sayang jika gak mampir dulu nengok pak gambul. akhirnya dari arah ringroad, Binter merzy langsung saya arahkan ke selokan. Ngelewatin markas anak-anak CB di selokan tapi pas kosong.
Sampai juga di bengkel babe, karena yang bersangkutan tidak ada, langsung tancap gas setelah sebelumnya ngobrol bentar dan dibantuin nyetel tensioner oleh anak buahnya. Sampai di Pak Antok, ketemu retno, belakangan baru tahu nama panggilannya di janti adalah tri.
setelah nunggu bentar, akhirnya ngobrol dengan pak antok, diskusi dimulai dari masalah pengapian. Saya menceritakan problem yang terjadi yaitu pada putaran tertentu si KZ 200 brebet kaya mau mati dan saya ngotot mempertahankan agar pengapian tetap pakai platina.
Dengan santai beliau menjelaskan satu persatu masalah pengapian. Dia menyarankan kalau mau pakai platina, sebaiknya koil,kondensor,platina dan kiprok (regulator) harus asli. kenapa? karena pengapian dengan platina sangat mengandalkan kebersihan permukaan platina untuk mencapai kondisi yang prima. jika salah satu tidak menggunakan barang yang original maka dikhawatirkan akan timbul percikan api ketika proses buka tutup platina.
Trus dia menyarankan agar KZ 200 direpair dengan menggunakan pulser astrea, koil dan cdi dari motor suzuki shogun. Dengan penggantian ini diharapkan ongkos bisa ditekan. hanya saja dia juga mengingatkan bahwa ada juga kemungkinan motor mogok karena salah satu dari ketiga komponen tadi mati. tapi tidak mungkin sekaligus ketiga-tiganya mati bersamaan.
Diskusi berkembang lebar hingga ke mesin. Keluhan yang saya utarakan adalah pada kecepatan agak tinggi, pantat terasa bergetar. Pak Antok menyarankan untuk cek jerohan mesin. akhirnya diskusi kami sampai pada suatu kesimpulan, saya akan merestorasi mesin terlebih dahulu sebelum merestorasi pengapian. Hari ini 13 feb, kami janjian untuk bongkar mesin untuk cek lebih lanjut onderdil-onderdil yang sudah memasuki masa pensiun.
Segala sesuatu selalu dimulai dari sejarah. Begitu juga dengan Binter Merzy. Sebelum era motor plastik di mulai, sepeda motor ini menjadi idola untuk dimodifikasi maupun dibiarkan tampil standar.